decaydhans profile picture decaydhans 5 years ago
Blog

Beli Velg Replika bukan Berarti Beli Velg Palsu, Mengapa?

Istilah velg palsu atau fake wheels jarang dikenal di Indonesia. Orang lebih mengenal istilah velg replika, yakni velg aftermarket dengan banderol lebih terjangkau yang biasanya memplagiat desain dari brand velg ori (original) ternama, baik itu aftermarket maupun OEM (Original Equipment Manufacturer).

Perdebatan tentang memilih velg ori atau replika bisa dibilang sebagai perdebatan yang mungkin tidak akan menemui akhir. Keduanya memang memiliki pasarnya sendiri yang menyasar segmen berbeda.

Sulit pula jika menyebut pemakai velg replika bukan ‘car enthusiast’ sejati karena ini sebenarnya bukan soal selera, tetapi soal dompet.

Memperdebatkan istilah palsu dan asli untuk velg dapat terbagi lagi lebih jauh karena pengertian palsu pada industri velg terbagi menjadi dua, tiruan atau counterfeit dan replika. Di kamus, pengertian keduanya bisa identik, namun pada praktiknya ternyata berbeda.

Di Indonesia, velg tiruan dan replika biasa dikenal sebagai velg TW (diambil dari singkatan Taiwan yang mayoritas menjadi negara produsen velg tersebut). Meski secara demografi Taiwan dan China berbeda, tetapi kualitasnya bisa disamakan seperti barang ‘made in China’ lainnya.

Kualitas produk buatan China belum tentu tidak bagus, loh. Lihat saja iPhone yang dibuat disana untuk menekan biaya produksi. Atau misalnya sejumlah model velg Enkei yang dibuat di China dengan lisensi Enkei Jepang dengan alasan serupa yakni memangkas biaya produksi dan harga pasaran. So, stigma barang buatan China kualitasnya selalu buruk itu tidak relevan.

Counterfeit secara harfiah adalah pemalsuan produk dengan membuat tiruan persis seperti aslinya. Produk yang dijual memiliki tujuan untuk mengelabui konsumen yang tidak menyadari atau memahami bahwa produk itu adalah produk palsu.

Velg tiruan dijual dengan estetika desain dan spesifikasi yang sangat identik dengan velg dari brand ternama, berikut warna, logo brand, stiker decal dan detail lainnya dengan harapan dapat menipu konsumen yang tahu akan nama merek, tapi tidak tahu barang.

Mengapa tidak tahu barang? Karena mereka yang biasanya tahu barang juga tahu akan material, detail, harga pasaran dan dimana produk aslinya biasa dijual secara resmi.

Singkatnya produsen velg tiruan ini berharap meraup pundi-pundi keuntungan dengan menyamarkan produknya seperti produk asli, meskipun kualitasnya jauh lebih rendah. Kira-kira seperti Adidas Yeezy yang Anda beli di Instagram. Mungkin cukup identik, namun yah… tiruan.

Brand beken seperti BBS, SSR, Enkei dan Work adalah yang paling sering menjadi korban plagiat total produknya oleh produsen velg tiruan. Konyolnya, kadang mereka sengaja menjual dengan menggunakan nama brand yang ada atau sedikit diplesetkan. Seperti ‘Enkei’ yang sering dicetak emboss pada velg dengan ‘Enkie’. Duh.

Nah jika melihat velg yang sepintas mirip dengan velg dari brand ternama tetapi memiliki sejumlah perbedaan secara visual, itu adalah velg replika. Jika secara visual sama persis, besar kemungkinan itu velg tiruan.

  • Velg Replika Menggunakan Nama Brand Sendiri

Velg replika berada di kasta yang berbeda dengan velg tiruan. Memang betul kebanyakan produknya biasanya mengadopsi desain velg yang sudah ada dari brand ternama dan bukannya menciptakan desain sendiri.

Namun produsen velg replika tidak mencoba menjual produk dengan menggunakan logo, nama, spesifikasi dan detail velg yang mirip dari brand ternama.

Mereka menjual produknya dengan menggunakan brand dan spesifikasi sendiri dan kadang mengubah sedikit desain yang mereka plagiat, untuk memberi identitas tersendiri pada produknya.

Ambil contoh brand velg replika seperti Rota, XXR atau STR Racing. Rota yang berbasis di Filipina sering memplagiat desain dari Work Wheels sementara XXR bisa disebut spesialis BBS.

Produsen velg replika ini sering dikritik karena memplagiat desain, tetapi sebenarnya mereka menjual dengan brand mereka sendiri dan dengan detail yang berbeda pada ‘finishing’ desain sebagai identitas tersendiri.

Antara model velg XXR 521 dan BBS LM, misalnya. Pembeli awam mungkin tidak tahu ketika membeli velg XXR 521 tersebut, desainnya ternyata adalah plagiat dari BBS LM. Tetapi mereka tahu yang mereka beli adalah sebuah XXR yang banderolnya murah dan bukannya BBS, karena semua identitas yang tercantum pada velg bertuliskan XXR.

Bedanya dengan velg tiruan adalah pembeli yang tidak tahu barang bukan tidak mungkin berpikir yang mereka beli adalah benar sebuah BBS, padahal harganya dengan velg BBS asli bagaikan surga dan neraka.

Coba saja Anda bandingkan antara velg XXR 521 dan BBS LM. Antara wajah velg memang memiliki jari-jari atau palang yang mirip satu sama lain. Tetapi bentuk lips, warna dan detail lainnya seperti baut/spike/rivet replika, benar-benar jauh berbeda. Kadang tipe PCD (Pitch Circle Diametre)-nya juga berbeda.

Velg ori biasanya memiliki PCD yang menjadi ciri tersendiri. Sementara velg replika biasa menawarkan produk dengan banyak tipe PCD sehingga dapat lebih luas diserap pasar.

Tentunya mereka yang tahu barang tidak akan keliru membedakan antara XXR dan BBS. Karena seperti dijelaskan di awal, ini bukanlah soal selera, tetapi soal dompet.

Produsen velg replika juga memberi sentuhan berbeda ini dengan alasan tersendiri, mungkin salah satunya agar tidak digugat dengan tuntutan hukum terkait plagiarisme desain.

Namun jika sudah memiliki teknologi produksi yang baik dan material yang berkualitas, mengapa mereka tidak merancang desain tersendiri?

Menilik sejumlah sumber banyak disebutkan bahwa para desainer velg banyak yang mengakui sangat sulit untuk membuat desain yang benar-benar otentik saat ini. Ribuan desain velg sudah ada sejak industri aftermarket booming seiring meroketnya industri otomotif dan motorsport.

Alasan lainnya bisa jadi karena bentuk velg yang murni bulat. Mengapa bulat? Coba Anda bayangkan jika sepatu hanya boleh dibuat dalam satu bentuk persegi. Mungkin desain sepatu tidak akan sebanyak yang kita bisa lihat saat ini.

Maka dari itu kemudian muncul banyak produsen velg aftermarket kemarin sore yang banyak diakui memiliki kualitas setara asli dan bahkan sering disebut sebagai velg asli, meski desainnya (tetap saja) banyak yang mencomot desain (sebut saja terinspirasi) dari velg-velg brand ternama.

Produsen velg tersebut diantaranya adalah Rotiform, Avantgarde, WCI, CCW atau Atara Racing dari Malaysia yang reputasinya saat ini tengah naik daun.

Kualitas yang ditawarkan tentu jauh diatas produsen velg replika. Misalnya saja produsen velg replika tidak menawarkan velg dengan tipe konstruksi 2-pieces atau 3-pieces yang bisa di-custom, tetapi ditawarkan oleh produsen tersebut.

Mereka juga kadang menamai produknya dengan nama yang memberi penghormatan pada desain velg aslinya, seperti CCW LM20 yang desainnya dicomot dari BBS LM.

Ada beberapa macam proses manufaktur pada velg dan proses ini adalah apa yang pada akhirnya akan menentukan kualitas velg. Baik velg ori aftermarket atau OEM, maupun velg replika, bervariasi dalam proses produksinya.

Velg replika juga banyak yang ditempa dengan detail presisi sementara banyak velg OEM ternyata ada juga yang diproduksi dengan pengecoran sederhana. Singkatnya, kualitas velg tergantung pada bagaimana itu dibuat, bukannya siapa yang membuatnya.

  • Desain Itu Relatif, Kualitas Produksi Itu Absolut

Produsen velg ori ternama toh juga sering mengambil desain dari velg yang sudah ada sebelumnya. Ambil contoh Work Seeker SX yang mengambil inspirasi desain dari Speedline SL364 yang dijejali pada Ferrari F40. Toh bukan tidak mungkin jika ternyata Work memiliki kualitas produksi yang jauh lebih baik dari Speedline.

Masalah keberadaan produk alternatif dengan banderol lebih terjangkau, tentu bukan hanya menyambangi industri velg. Karena pada dasarnya tujuan produk ini dipasarkan adalah untuk menarik pelanggan yang tidak mampu membeli produk yang lebih mahal.

Kini bahkan banyak produsen velg replika yang awalnya hanya melakukan plagiat desain dengan material murah, kemudian benar-benar meningkatkan kualitas produknya baik dari sisi material maupun desain otentik dari produsen.

Mereka juga menjual produk yang telah memenuhi standar yang berkaitan dengan paten dan merek dagang dan dijual setelah melewati pengujian kualitas. Maka dari itu jangan heran jika sekarang banyak brand velg replika yang digunakan di ajang kelas dunia.

Produsen velg replika STR Racing dari China misalnya, sudah mendapat sertifikasi standar pengujian JWL (Japan Light Alloy Wheel standard) dan VIA (Vehicle Inspection Association of Japan) dan juga menjadi sponsor salah satu tim balap di Formula Drift.

Nah biasanya cara yang dilakukan produsen velg replika untuk menurunkan harga pasaran adalah dengan menggunakan proses manufaktur yang berbeda dari brand yang sudah ternama. Namun proses manufaktur yang berbeda tidak selalu mengartikan kesenjangan di sisi kualitas.

Umumnya untuk menekan harga, produsen velg aftermarket tidak memproduksi tipe velg tertentu, misalnya velg multi-pieces yang konstruksinya terbagi menjadi beberapa bagian, 2-pieces atau 3-pieces, tetapi hanya tipe cast, monoblock atau forged wheels.

Kembali ke esensi desain yang menjadi nilai jual utama produk apapun. Inilah yang membuat sifat desain dalam sebuah produk tidaklah absolut, melainkan relatif. Begitu pula di industri velg.

Apa yang mau Anda kritisi soal plagiarisme desain jika pada akhirnya desain yang ditiru di produk baru, memiliki kualitas produksi yang bahkan jauh lebih baik dari desain produk yang ditiru dengan harga yang juga lebih terjangkau?

Sekali lagi, desain itu relatif, sementara kualitas produksi itu absolut. Dan lagipula jika kantong Anda benar-benar tebal, buat apa beli velg replika.

Toh velg aftermarket ori dalam kondisi bekas juga banyak yang dibanderol setara harga baru velg replika. Velg OEM pun biasanya diberi harga lebih terjangkau dalam kondisi bekas.

Bayarlah lebih demi mendapatkan kualitas, harga tidak pernah berbohong. Bukan begitu?

Sulit pula jika menyebut pemakai velg replika bukan ‘car enthusiast’ sejati karena ini sebenarnya bukan soal selera, tetapi soal dompet.

This content was originally posted by a Car Throttle user on our Community platform and was not commissioned or created by the CT editorial team.